Sunday, January 15, 2012

Microcontroller for Audio Processing

Just for reference:
http://www.circuitlake.com/arduino-realtime-audio-processing.html
http://arduino.cc/en/Main/ArduinoBoardADK

This is very interesting project. Some day if I have spare time, I want to realize it.
I already have this board
http://mcu.emea.fujitsu.com/mcu_tool/detail/DICE-KIT.htm

Friday, January 13, 2012

Auto-Mount Hard Drives on Ubuntu

use Storage Device Manager




it is available on Ubuntu Software Center


Saturday, January 7, 2012

Deutsche Wörter

Here are those useful links

Verbformen:
http://www.verbformen.de/

Dictionary:
http://de.wiktionary.org

Sunday, January 1, 2012

Trim function for std::string

This is a simple and efficient function to trim a string class in C++

void trim(string& astring, const char t){
   string::iterator it;
   
   for (it=astring.begin() ; it < astring.end(); it++){
      if(*it==t){
           astring.erase(it);
       };
   }
}

usage example

trim (number, ' ');

I think it is quite clear.

Tuesday, December 27, 2011

Learning C++

This is my useful website recommendation to study C++. It gives very clear explanation and complete example. You can also download the pdf. What a very great tutorial :)


http://www.cplusplus.com/doc/tutorial/

Sunday, December 25, 2011

Tidak Semua Orang Harus Kaya

 



"Beramallah kamu seolah2 akan mati esok hari dan bekerjalah kamu seolah2 akan hidup seribu tahun lagi"

Saya tidak hafal teksnya, tapi kira-kira begitulah terjemahannya. Hadits tersebut derajatnya lemah(mohon dikritisi) tetapi seringkali digunakan untuk memotivasi orang, bahwa seorang muslim itu harus kaya(dengan cara yang benar tentunya). Mana bisa naik haji kalau kaya? begitulah argumen logikanya.
Ketika saya meminta penjelasan kepada orang yang paham tentang motivasi seperti itu, maka saya dapat menerimanya. Tetapi ketika diperhatikan, maka mengajarkan motivasi seperti itu secara dini kepada kebanyakan orang yang kurang paham dapat menimbulkan potensi bahaya.

Lagi pula, hadits di atas  secara muatan bukan memotivasi kita untuk berlomba mencari kekayaan, tetapi untuk produktif.

Saya paham maksudnya, tetapi saya kurang setuju dengan kata kuncinya. Ketika kata kunci yang dipilih adalah "kaya", maka kita mensugesti diri untuk berbicara tentang hak, dan untuk menumpuk kekayaan. Padahal kita tidak perlu menuntut hak, Allah akan mencukupi kebutuhan kita. Jika semua orang mendahulukan diri untuk mendapatkan haknya, maka dia akan kehabisan energi sebelum sempat memenuhi kewajibannya. Semua orang harus paham hal ini.

Tidak ada yang bertentangan dari ajaran bahwa Allah menjamin rezeki tiap-tiap makhluknya, bahwa Dia memberi rezeki melalui jalan yang tidak disangka-sangka dan ajaran untuk bekerja keras. Kita wajib bekerja keras, produktif semaksimal mungkin, dan Allah akan memberi rezeki kepada kita. Tidak harus melalui jalan dari kerja keras kita, mungkin saja datang dari jalan lain.

Dalam pemahaman saya, bukan semua orang harus kaya, tapi semua orang harus produktif. Ini yang aku pahami saat ini ketika aku belum kaya, nanti kalau sudah kaya, ataupun nanti ketika aku tidak kaya. Rule ini berlaku untuk semua orang. Setiap orang harus menjalankan perannya sepenuh hati, melakukan tanggungjawabnya dengan benar sehingga kesejahteraan tercipta untuk semua orang.

Seandainya ada seorang yang mendahulukan diri untuk "kaya" daripada produktif, maka pasti dia akan merasa disibukkan dengan kenaikan pangkat daripada disibukkan oleh pekerjaan itu sendiri. Sibuk dengan kenaikan pangkat tidak salah (dilakukan dengan jalan yang benar), tetapi prioritasnya yang salah. Aku tidak percaya ada orang yang dapat bersantai dengan pekerjaannya sehingga sibuk dengan kenaikan pangkat, karena amanah yang kita emban sebagai apapun sudah sangat banyak dan cukup menyibukkan kita untuk melupakan kenaikan pangkat.

Tipikal orang yang salah prioritas seperti ini, ketika mendapat amanah pekerjaan lebih pasti akan mengeluh. Padahal rezeki yang Allah berikan masih jauh lebih banyak daripada cobaan yang diterima. Yang akan menjadi pembanding adalah yang di atasnya -- alih-alih membandingkan dengan yang di bawahnya.

Efek prinsip produktif ini baru dapat dirasakan ketika sebuah komunitas besar mempunyai pemahaman yang sama.

Aku memberi perumpamaan, ada seorang yang sangat kaya membeli sebuah mobil Bentley. Dengan tenaganya yang luar biasa, mobil itu dapat dipacu dengan kecepatan yang sangat kencang. Tetapi dia hidup di Jakarta, jalanan macet. sehingga mobil yang kecepatan maksimumnya 300 km/j hanya dapat dipacu 1/10 nya saja. Artinya, sia-sia dia menjadi kaya. Lain halnya jika ada kesadaran bersama untuk sejahtera bersama. Bisa diciptakan sistem transportasi yang baru, infrastruktur yang baru dsb. Sehingga meskipun seorang itu sangat kaya, dia tidak perlu membeli mobil yang super cepat untuk dapat sampai di kantor, karena sudah ada trem yang selalu tepat waktu misalnya. Orang yang menikmati kemudahan itu bukan hanya orang kaya, dan kenyamanan seperti itu tidak bisa didapatkan dengan cara kaya, tetapi akibat dari kesadaran semua orang, bahwa tidak ada gunanya menumpuk harta kekayaan. Yang berguna adalah berpikir semaksimal mungkin, bekerja semaksimal mungkin, melakukan segala sesuatu seproduktif mungkin, untuk kesejahteraan bersama. Bukan untuk diri sendiri.

Aku memberi sebuah perumpamaan lagi -- perumpamaan yang sama sejak aku SMA. Secangkir kopi tidak perlu gula 1kg. Artinya, kenikmatan dunia itu ada thresholdnya. Tidak ada gunanya orang berlomba mengejar kekayaan itu. Dan sebenarnya, orang yang berlomba mengejar kekayaan itu sudah disinggung dalam surat At Takatsur.

Dalam tataran kalimat hal ini masih cukup dapat direnungi, tapi dalam praktek hal ini akan lebih sulit. Harus ada gerakan masal dimana semua orang paham akan hal ini, baru akan menghasilkan tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Bukan masalah siapa yang jadi bottle neck dan harus berandai-andai menjadi agent of change, tapi ini harus dimulai dari diri kita sendiri sesuai peran kita masing-masing. Tidak ada gunanya mahasiswa itu berdemo, karena itu tidak sesuai dengan perannya -- pendapat pribadi. Peran seorang mahasiswa ya harus belajar dengan betul, sedangkan ketika dia mendapat peran yang lain, dia harus tetap konsisten melakukan peran barunya dengan betul pula -- misalnya setelah lulus mendapat amanah menjadi pegawai pemerintahan, ya harus menjalankan amanahnya dengan baik. Atau sebagian yang lain diberikan peran oleh Allah sebagai pengusaha, harus tetap konsisten diatas kebenaran sebagaimana yang didengungkan ketika masih mendapat peran sebelumnya -- mahasiswa. Tidak ada langkah yang dapat di-skip di sini, semua ada tahapnya. Jangan ketika menjadi mahasiswa meneriakkan kebenaran, tetapi setelah di pemerintahan ternyata ikut menjadi bagian yang buruk.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda, "Manfaatkanlah uang ini untuk dirimu sendiri, bila ada sisanya maka untuk keluargamu, jika masih tersisa, maka untuk kerabatmu, dan jika masih tersisa, maka untuk orang-orang disekitarmu."

Jadi konsepku dalam rangka menjadi seorang yang berhasil adalah seperti ini: yang dikejar bukanlah target untuk menjadi top orang terkaya di Asia atau Dunia. Tapi adalah seberapa banyak kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Kalau kebutuhan kita sudah terpenuhi, ya sudah cukup segitu yang kita butuhkan. Selebihnya kita gunakan untuk membantu orang lain. Membangun perusahaan baru, menggaji karyawan dengan baik, dst. Tidak ada gunanya menumpuk kekayaan, karena indera kita hanya lima. Kemampuan kita untuk merasakan kenikmatan di dunia itu terbatas. Ada thresholdnya. Dan sebenarnya yang tidak terbatas itu hanyalah nafsu kita belaka.

Saya tidak setuju dengan konsep investasi yang tujuannya adalah kebebasan finansial, dimana seorang yang dikatakan sukses dapat pensiun dini dan kemudian uang yang bekerja untuk dirinya. Manusia diturunkan di dunia ini untuk menjadi kholifah, mengelola bumi dengan sebaik-baiknya. Bukan untuk mengeksploitasi bumi dengan sebanyak-banyaknya seperti prinsip ekonomi Adam Smith -- dengan pengorbanan sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Bukan pula untuk bersantai-santai sementara sebagian lain manusia membutuhkan kehadiran kita. Selama kita masih punya nafas, maka selama itu pula tugas kita sebagai kholifah belum berakhir. Selama itu pula kita tetap harus bekerja. Jika pemahaman kita tentang bekerja adalah untuk mencari kekayaan, maka saya katakan bahwa hal itu terlalu dangkal sekali. Dunia adalah ladang amal, kita akan menikmati hasil ladang kita di akhirat.

Adalah hidup almarhum seorang paman saya yang memotivasi pemikiran saya. Saya bersyukur masih sempat bersilaturahmi sebelum beliau meninggal. Sebagai seorang pensiunan pegawai(seperti juga ayah saya), saya sangat yakin uang dari dana pensiun sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Beliau tidak memilih untuk bersantai menikmati pensiun, justru membuka toko & bengkel sepeda. Bukan untuk mengejar kekayaan, tetapi berdasarkan keyakinan bahwa selama hayat masih dikandung badan, maka selama itu pula masih ada kesempatan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Saya tahu, tidak besar keuntungan materi yang diambil. Saya juga tahu usaha sepeda di jaman sekarang bukanlah mainstream. Namun beliau tetap istiqomah sampai akhir hayat.
Mungkin jika beliau berkata akan sedikit berbeda dengan pandanganku, tapi itulah hikmah yang dapat kupetik dari kehidupan beliau.

Negara kita tidak akan maju selama pemerintahnya masih korup, rakyatnya masih malas dan orang-orang kaya-nya masih serakah. Masing-masing kita harus melihat ke diri kita sendiri, peran apa yang sedang kita jalani dan itulah yang harus kita perbaiki. Jujur, kerja keras dan syukur, itu yang harus selalu kita pegang.


                        ----------------------------- | | ---------------------------

Mohon setiap hadits dikritisi dan diteliti, penulis bukan seorang ahli hadits/ahli agama, jangan menjadikan blog ini sebagai rujukan sebelum melakukan perbandingan ke sumber lain.
Akan ada update atau lanjutan jika diperlukan.