Friday, April 30, 2010

Kiprok Honda Tiger yang Aneh


Bagi yang pernah belajar Rangkaian Listrik, pasti merasakan kejanggalan rangkaian di atas. Namun, demikianlah yang terjadi di sepeda motor Honda Tiger (th 2005).

Komponen kiprok di sepeda motor ini tidak hanya berfungsi sebagai penyearah, tetapi berfungsi juga sebagai voltage regulator. Di buku manualnya, regulator menjaga agar tegangan di kabel power tetap 12-15 Volt. Tetapi anehnya, rangkaian regulator itu disambungkan langsung secara parallel dengan kabel positif. Rangkaian seperti ini mirip dengan regulator zener yang paling sederhana. Tetapi seharusnya pada kabel positif terdapat resistor sebagai disipator daya.
Dengan rangkaian seperti ini, maka bisa dipahami jika kiprok Honda Tiger mudah rusak. Dalam keadaan tanpa beban (semua lampu mati), kiprok harus menurunkan tegangan dari alternator (yang mencapai lebih dari 100v tegangan puncak) menjadi 12-15V. Penurunan tegangan itu dilakukan dengan melepasnya menjadi panas. Bayangkan, betapa beratnya kerja kiprok itu. Jika bukan kiprok, maka bisa jadi alternatornya yang akan rusak. Tetapi alternator hanya gulungan tembaga, jadi mungkin kiprok rusak lebih dulu.
Seharusnya regulasi tegangan bisa dilakukan dengan cara yang lebih smart, misalnya dengan menggunakan regulator switching. Setidaknya, jika ingin rangkaian yang lebih sederhana, gunakanlah regulator linear yang tidak semena-mena hanya memotong tegangan input. Kamu mengerti maksudku?
Regulator switching efisiensinya sangat bagus, tapi mungkin terlalu kompleks untuk diimplementasikan ke otomotif (apalagi sepeda motor yang harganya murah). Tapi kupikir regulator linear tidak terlalu rumit jika diimplementasikan.
Kerja regulator linear dalam mendisipasi daya bergantung pada besarnya beban. Semakin besar beban yang digunakan semakin besar daya yang terdisipasi. Sebaliknya, tanpa beban, regulator hanya menyalurkan daya untuk charge aki, sehingga daya yang terdisipasi sedikit. Meskipun rangkaian semacam ini tidak seefisien regulator switching, namun masih jauh lebih baik daripada kiprok bawaan Honda Tiger.
Mudahnya, kiprokmu akan lebih sering rusak jika sering kamu bawa jalan siang hari (lampu tidak menyala), karena kiprok bekerja keras mendisipasi daya yang tidak terpakai. Namun jika sistem yang aku sarankan dipakai, maka semakin jarang kamu menyalakan lampu, regulator justru semakin awet, karena dia tidak perlu mengalirkan arus terlalu banyak.

5 comments:

  1. lebih gampang melakukan "short circuit" via SCR daripada "memutus-sambung" input dari stator.

    mau bahas lebih jauh ?
    http://www.kaskus.us/showthread.php?t=878712


    -=gajah_gendut=-

    ReplyDelete
  2. Begitu ya? padahal motor ane udah di ganti kiprok TIGER

    ReplyDelete
  3. Engineer Honda pasti sudah merancang kiprok Tiger di atas rating daya yang dibutuhkan, dan dihitung agar dapat bertahan sampai usia pakai tertentu. Tapi bagi saya tetap saja rancangan itu terasa janggal(mungkin pengetahuan saya masih kurang lengkap). Kemampuan disipasi daya maksimum Kiprok Honda Tiger cukup tinggi (dapat dilihat dari beban-beban daya Tiger). Jika diaplikasikan ke motor yang beban dayanya lebih rendah dari Tiger, seharusnya kiprok dapat lebih awet dibandingkan jika diaplikasikan ke Tiger sendiri.

    ReplyDelete
  4. thx kk, motor sy jupiter mx sudah dirubah kelistrikannya menjadi full-wave DC, nah barusan kiproknya mati (sudah 3 tahun pakai dan kiprok ga jelas, bentuk & warna spt. kiprok tiger, tapi sptnya bikinan montir)

    otomatis sy harus beli kiprok tiger lagi kan ? mending beli yg original atau yg KW spt merk KC gitu harganya cuma 40rb yg KC

    trim's :)

    http://willykk.wordpress.com

    ReplyDelete