Sunday, May 23, 2010

Esensi Perjalanan Waktu


Dua orang teman SMAku sedang bercakap-cakap. Sebutlah namanya Momon dan Kakek. Semasa kami SMA, Momon punya cewe namanya Ana. Sekarang Momon sudah putus dengan Ana. Ana kuliah di tempat yang sama dengan Kakek, sedangkan Momon terpisah sendiri.
Kakek berkata "Bodoh kamu Mon, ngapain kamu putusin Ana? Sekarang ana jadi Cantik, tapi udah punya pacar baru".
"Iya ya kek. Ngapain ya aku dulu putusin Ana.. ahhhh,,," Sesal Momon.

Apa yang kita petik dari percakapan di atas?
Penyesalan seseorang atas keputusannya di masa lalu.

Namun sebenarnya ada yang janggal dari dialog di atas. Si Momon menyesali masa lalu karena kenyataan bahwa sekarang dia tidak jadi cowo Ana adalah akibat keputusannya di masa lalu. Tetapi dia tidak menyadari kenyataan lain bahwa andai saja dia kembali ke masa lalu untuk tidak putus dengan Ana, belum tentu kenyataan pada saat ini seperti yang dia harapkan. Sebagai pengamat, kita tidak bisa semata menyandarkan bahwa terjadinya masa depan semata akibat dari keputusan momon di masa lalu.

Perjalanan waktu ini berlangsung sangat komplek. Ada banyak hal yang mempengaruhinya. Jika kita melihat bahwa perjalanan waktu adalah seiring dengan berputarnya bumi dan seluruh aktifitas didalamnya, maka seluruh makhluk yang ada di bumi bertanggung jawab atas semua kejadian seiring perjalanan waktu.

Ana lebih cocok dengan cowo barunya, menimbulkan sebuah keteraturan yang baru yaitu, dia berubah menjadi cantik. Mungkin ada ketidakcocokan Jika ana tetap jadi cewe momon, ana tetap saja tidak cantik, dan tetap saja pada akhirnya momon memutuskannya. Jadi perubahan Ana menjadi cantik tidak semata mengikuti perjalanan waktu, tetapi ada pengaruh cowonya, pengaruh Ana sendiri maupun pengaruh lainnya yang tidak kita ketahui, karena kita tidak bisa melihat cabang lain dari perjalanan waktu itu.

Jadi sebenarnya kita mustahil membayangkan, ataupun berkata "Seandainya aku dulu ... Mungkin aku sekarang ... ". Karena kita tidak tahu faktor-faktor lain yang mempengaruhi juga bisa berubah. Jadi seandainya aku dulu ... belum tentu aku sekarang .... Karena itu tak sepatutnya kita berputus asa dengan akibat kejadian di masa lalu.

Ada kata-kata dari seorang bijak,
Dunia ini terbagi menjadi tiga hari: hari kemarin, hari ini dan hari esok. Hari kemarin sudah berlalu dan kita tidak akan mungkin mengulangnya kembali. Sedangkan hari esok kita tidak tahu masih hidup atau sudah mati.
Yang ada dan benar-benar nyata adalah hari ini. Tak perlu menyesali masa lalu, yang terpenting adalah pada saat ini kita berbuat terbaik untuk masa depan atas dasar pengalaman kita di masa lalu. Gunakan masa lalu sebagai pengalaman hidup yang menjadi dasar kita untuk lebih berhati-hati dalam bertindak.

1 komentar: