Sunday, December 25, 2011

Tidak Semua Orang Harus Kaya

 

"Beribadahlah kamu seolah-olah akan mati esok hari dan bekerjalah kamu seolah-olah akan hidup seribu tahun lagi"

Pesan apa yang dapat kita petik dari kalimat motivasi di atas. Kita harus lebih giat bekerja agar kita menjadi kaya. Apakah seperti itu maksudnya?

Jika kita coba renungkan lagi, maka sesungguhnya kalimat di atas bukanlah motivasi untuk berlomba mencari kekayaan, namun, lebih tepatnya adalah untuk produktif/kerja keras. Ada baiknya anda membaca tulisan saya sebelumnya untuk lebih memahami filosofi dari pemikiran ini.

Memang, menjadi kaya adalah hak bagi semua orang. Namun jika kita hanya terfokus dengan kata kunci "kaya", maka kesan yang muncul dan akan memberikan sugesti terhadap otak kita, adalah tentang menuntut hak dan menumpuk kekayaan. Padahal, tanpa perlu kita tuntut pun, Allah pasti akan memenuhi hak dan mencukupi kebutuhan kita. Jika semua orang tersugesti dengan cara yang sama, yaitu mendahukukan pemenuhan haknya, maka semua orang akan berlomba-lomba dalam rangka mendahulukan diri untuk mendapatkan haknya. Pada akhirnya, semua akan kehabisan energi karena perlombaan tersebut, sebelum sempat memenuhi kewajibannya.

Allah menjamin rezeki bagi tiap-tiap makhluknya, Dia memberi rezeki melalui jalan yang logis maupun tidak disangka-sangka. Pada saat yang sama, kita tetap diharuskan untuk bekerja keras.
Loh, kalau sudah dijamin rezekinya, kenapa masih harus bekerja?
Sebenarnya, tidak ada yang bertentangan dari dari ketiga aksioma tersebut. Ketika kita sudah bekerja keras, produktif semaksimal mungkin, secara alami Allah akan memberi rezeki kepada kita. Dengan demikian, nampaknya rezeki datang melalui jalan yang logis, sesuai dengan hukum alam. Namun kadang kala, kita sudah bekerja keras, namun rezeki Allah tidak datang melalui jalan dari kerja keras kita, bisa jadi rezeki itu justru datang dari jalan lain. Apakah demikian itu berarti kerja keras kita sia-sia? Tidak, karena dengan kita bekerja keras itu, maka kita sudah melakukan sebuah ikhtiar, dan jika itu kita niatkan sebgai ibadah, maka kita sudah mencatatkan satu amal kebaikan. Sedangkan jalan rezeki yang akan turun kepada kita, itu adalah sepenuhnya hak Allah untuk menentukan. Apakah itu melalui jalan yang logis atau tidak disangka-sangka.

Maka yang lebih tepat adalah, bahwa, tidak semua orang harus kaya, tapi semua orang harus produktif. Kebenaran hipotesis ini akan teruji waktu, dan dengan sendirinya kita akan melihat apakah hipotesis tersebut benar atau salah. Keharusan untuk produktif di sini berlaku umum kepada semua orang. Dengan demikian, setiap orang harus melakukan apapun perannya dengan penuh integritas dan menjalankan tanggungjawabnya dengan benar sehingga kesejahteraan tercipta untuk semua orang.

Ada sebuah ilustrasi. Seorang pekerja yang lebih memprioritaskan kata kunci "kaya" daripada "produktif", maka dia akan lebih disibukkan dengan kenaikan pangkat daripada oleh pekerjaan itu sendiri, misalnya. Tidak ada yang salah dengan sibuk untuk kenaikan pangkat, tetapi coba lihatlah! Adakah orang yang dapat bersantai dengan pekerjaannya, sehingga menjadi sibuk dengan kenaikan pangkat. Saya rasa apapun profesi kita, jika kita menjalankan dengan sungguh-sunggu, pasti amanah yang kita emban sudah sangat banyak dan cukup menyibukkan kita, dan menyita waktu serta perhatian kita dari menuntut hak (kenaikan pangkat).

Akibat dari salah prioritas seperti ini, maka kita cenderung mengeluh ketika mendapat amanah pekerjaan lebih. Padahal jika kita mau adil dalam berhitung, maka rezeki yang telah Allah berikan masih jauh lebih banyak daripada cobaan atau tambahan beban yang diterima. Alih-alih melihat ke bawah dan bersyukur, justru kita membanding-bandingkan apa yang kita dapatkan dengan mereka yang berada di atas kita. Kita patut berintrospeksi atas hal ini.

Pemahaman ini baru memberikan dampak yang dapat dirasakan dalam sebuah entitas besar.
Misalnya, seseorang yang sangat kaya membeli sebuah Bentley. Dengan tenaganya yang luar biasa, mobil itu dapat dipacu dengan kecepatan yang sangat kencang. Namun karena dia hidup sebuah kota yang jalan-jalannya macet, maka mobil dengan kecepatan maksimum lebih dari 300 km/j tersebut hanya dapat dipacu 1/10 nya saja. Sia-sialah dia menjadi kaya sendirian. Bentley dapat dibeli, tapi kenyamanan tidak. Mobil cepat itu tidak dapat mengantarnya untuk lebih cepat sampai ke tujuan.

Bandingkan dengan kesadaran bersama untuk sejahtera bersama. Daripada berlomba untuk membeli mobil yang lebih cepat, orang kaya lebih memilih untuk memberikan andil dalam menciptakan sistem transportasi yang baru, menambah infrastruktur dst. Orang yang super kaya pun tidak perlu membeli mobil yang super cepat untuk dapat lebih cepat sampai ke tujuan, karena sudah ada trem yang selalu tepat waktu misalnya. Imbasnya, semua orang dapat menikmati kemudahan itu, bukan hanya segelintir orang. Kenyamanan itu tidak bisa didapatkan dengan cara kaya secara pribadi, tetapi itu merupakan hasil dari kesadaran kolektif yang berlangsung lama. Tidak ada gunanya menumpuk harta kekayaan. Yang lebih baik adalah berpikir semaksimal mungkin, bekerja semaksimal mungkin dan melakukan segala sesuatu seproduktif mungkin untuk kesejahteraan bersama.

Ada sebuah ungkapan filosofis lain yang telah lama, "secangkir kopi tidak memerkukan satu kilogram gula". Artinya adalah, kenikmatan dunia itu ada batasnya. Ketika sudah mencapai batas maksimum, ada saatnya kekayaan yang kita kejar itu tidak memberi tambahan kenikmatan. Bahkan, justru menimbulkan beban bagi kita. Orang makan saja, tidak akan mampu lebih dari dua piring. Dan piring ke tiga itu tidak ada manfaatnya bagi kita, kecuali kita berikan untuk orang lain. Tidak ada gunanya manusia itu berlomba mengejar kekayaan. Bahkan, orang-orang yang berlomba mengejar kekayaan sudah disinggung dalam Q.S. At Takatsur.

Secara prinsip, pentingnya kesadaran kolektif itu dapat kita pahami, namun prakteknya akan lebih sulit. Diperlukan suatu kesadaran massal dimana semua orang memiliki pemahaman yang sama. Setelah itu, baru tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik dapat dihasilkan. Permasalahannya bukan mencari-cari, siapa yang menjadi duri yang harus disingkirkan, atau harus berandai-andai menjadi agent of change, tetapi kesadaran dan sikap ini harus dimulai dari diri kita sendiri sesuai peran kita masing-masing.

Demonstrasi tidak membawa dampak yang signifikan, karena bukan itu peran mereka sesungguhnya. Peran seorang mahasiswa misalnya, yaitu harus belajar dengan benar. Ketika dia sudah mendapat peran yang lain, dia harus menjalankan  peran barunya dengan benar pula. Misalnya ketika setelah lulus mendapat amanah menjadi pegawai pemerintahan, amanah itu harus dijalankan dengan baik pula. Ketika sebagian yang lain diberikan peran oleh Allah sebagai pengusaha misalnya, dia harus tetap konsisten diatas kebenaran sebagaimana yang didengungkan ketika masih dalam peran sebelumnya, yaitu mahasiswa. Tidak ada langkah yang kita dilompati, masing-masing ada tahapnya. Tidak ada gunanya ketika kita masih menjadi mahasiswa meneriakkan kebenaran, tetapi setelah di pemerintahan ternyata ikut menjadi bagian yang buruk.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda, "Manfaatkanlah uang ini untuk dirimu sendiri, bila ada sisanya maka untuk keluargamu, jika masih tersisa, maka untuk kerabatmu, dan jika masih tersisa, maka untuk orang-orang disekitarmu."

Pada prinsipnya, yang dikejar bukanlah target untuk menjadi orang terkaya di Asia ataupun Dunia bahkan. Tapi adalah seberapa banyak manusia dapat bermanfaat bagi orang lain. Jika kebutuhan pribadi kita sudah terpenuhi, cukuplah itu yang kita ambil. Selebihnya gunakan untuk membantu orang lain. Membangun perusahaan baru, mensejahterakan karyawan dengan lebih baik, dst. Tidak ada gunanya menumpuk kekayaan, karena indera yang kita miliki hanya lima. Kemampuan kita untuk merasakan kenikmatan di dunia itu terbatas. Ada ambangnya dimana kita akan merasa bosan dan tidak akan merasakan lagi nikmatnya dunia. Dan sesungguhnya yang tidak terbatas itu hanyalah nafsu kita belaka.

Satu hal lagi yang perlu kita kritisi adalah konsep investasi dengan tujuan kebebasan finansial, dimana seorang yang dikatakan sukses dapat pensiun dini dan kemudian uang akan bekerja untuk dirinya. Manusia diturunkan di dunia ini untuk menjadi kholifah, mengelola bumi dengan sebaik-baiknya. Bukan untuk mengeksploitasi bumi dengan sebanyak-banyaknya seperti prinsip ekonomi Adam Smith "Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya". Bukan pula untuk bersantai-santai sementara sebagian lain manusia membutuhkan kehadiran kita. Selama kita masih punya nafas, maka selama itu pula tugas kita sebagai kholifah belum berakhir. Selama itu pula kita tetap harus bekerja dan berguna bagi sesama. Jika pemahaman kita tentang bekerja adalah untuk mencari kekayaan, maka saya katakan bahwa hal itu terlalu dangkal sekali. Dunia adalah ladang amal, yang akan kita nikmati hasilnya di akhirat kelak.

Adalah perjalanan hidup almarhum seorang paman yang telah memberi inspirasi. Saya bersyukur masih berkesempatan untuk bersilaturahmi sebelum beliau meninggal. Sebagai seorang pensiunan pegawai negeri (seperti juga ayah saya), saya yakin beliau mendapatkan dana pensiun bulanan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun demikian, beliau tidak memilih untuk bersantai menikmati pensiun, beliau justru membuka toko dan bengkel sepeda. Bukan dengan motivasi untuk mengejar kekayaan, tetapi berdasarkan keyakinan bahwa, selama hayat masih dikandung badan, maka selama itu pula masih ada kesempatan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Kenapa? karena saya tahu, tidak besar keuntungan materi yang diambil dari toko tersebut. Dan saya juga tahu, usaha sepeda di jaman sekarang bukanlah mainstream yang akan mendatangkan keuntungan melimpah. Namun demikian, usaha tersebut tetap beliau tekuni secara istiqomah sampai akhir hayat.

Barangkali beliau akan menuturkan cerita yang berbeda dari yang saya pahami. Tetapi itulah hikmah yang dapat kupetik dari melihat kehidupan beliau.

Negara kita tidak akan maju selama pemerintahnya masih korup, rakyatnya masih malas dan orang-orang kayanya masih serakah. Masing-masing kita harus melihat ke diri kita sendiri, peran apa yang sedang kita jalani dan itulah yang harus kita perbaiki. Jujur, kerja keras dan bersyukur, itulah yang harus selalu kita pegang.

-"-

Tulisan ini hanyalah intepretasi penulis terhadap nilai-nilai agama, kehidupan dan pengalaman. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai rujukan sebelum melakukan perbandingan ke sumber lain.
Tulisan ini berlanjut di sini.

No comments:

Post a Comment