Showing posts with label Motivation. Show all posts
Showing posts with label Motivation. Show all posts

Wednesday, March 14, 2018

Realita Pernikahan

Pernikahan itu bukanlah perkara yang ringan, sungguh, sama sekali bukan perkara yang ringan. Jika banyak orang bersemangat dan memberi semangat untuk segera menikah, mungkin saya termasuk yang sebaliknya menyarankan untuk berpikir ulang berkali-kali sampai anda betul-betul yakin dan siap. Bagi saya, tidak ada nasehat pernikahan yang sifatnya umum. Semua nasehat itu sifatnya kondisional, harus disesuaikan dengan kepada siapa ia diberikan. Tidaklah tepat jika nasehat untuk menyegerakan pernikahan itu, diberikan kepada semua orang tanpa melihat konteks.
Saya menikah di usia 29 tahun yang tidaklah terlalu muda. Usia dimana seseorang dengan kematangan mental dan pengalaman hidupnya sudah merasa sangat siap untuk menikah. Dengan segala pencapaian dan keyakinan akan mampu untuk menghadapi apapun yang akan terjadi sebagai konsekuensi dari pernikahan, bahkan untuk kemungkinan terburuk sekalipun, toh, masih saja banyak pengalaman mengagetkan di hari-hari awal pernikahan. Menyatukan dua pikiran dalam sebuah rumah tangga tidaklah mudah. Banyak sekali hal-hal dan kebiasaan-kebiasaan baru yang harus dijalani yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Perkara-perkara sepele yang sebelumnya dianggap remeh berubah menjadi perkara yang serius. Tanpa kesungguhan niat dan pertolongan Allah, maka akan berat menghadapi perubahan yang sangat drastis ini. Mutlak untuk dimiliki kesadaran tertinggi bahwa segalanya tidak mungkin terjadi tanpa kehendak Allah. Pada akhirnya, konsekuensi dari keputusan yang sudah diambil itu harus kita jalani seumur hidup, dalam suka maupun duka.
Memilih calon pasangan dan memutuskan untuk menikah itu tidak mudah, namun menjaga pernikahan agar tetap harmonis itu jauh lebih sulit. Maka seharusnya, perayaan ulang tahun pernikahan itu lebih meriah dariada pesta pernikahan itu sendiri. Karena langgengnya sebuah pernikahan lebih layak untuk dirayakan, daripada sekedar keputusan mengakhiri masa lajang. Meskipun sudah melakukan usaha terbaik untuk memilih pasangan terbaik sekalipun, kamu tidak akan dapat menghindari problematika dalam rumah tangga. Permasalahan rumah tangga itu adalah sebuah keniscayaan.
Pernikahan akan membawa seseorang ke level selanjutnya. Jika anda sudah merasa menjadi orang yang sangat sabar, maka di dalam pernikahan, ada suatu saat dimana anda akan dibawa ke situasi di atas batas kesabaran. Pada saat itu, dengan sangat terpaksa, anda harus menaikkan kembali batas kesabaran anda. Jika tidak, maka semua yang telah anda bangun akan hancur berkeping-keping. Maka anda dihadapkan oleh pilihan, mengalahkan diri sendiri dan naik level, atau berkeras tidak mau mengalah dan memilih untuk menghancurkan segalanya. Menikah berarti rela untuk mengalah. Bukan mengalah pada pasangan, tetapi mengalah pada diri sendiri. Tidak banyak orang yang mau merasa terhina atau kalah, karenanya mereka akan melawan. Namun sesungguhnya, dalam situasi ini bukan kemenangan dari perdebatan yang dicari. Karena kemenangan berdebat bisa jadi awal dari sebuah petaka besar.
Seandainya pernikahan itu adalah keputusan yang buruk dalam hidup anda, maka percayalah, perpisahan adalah sebuah keputusan yang lebih buruk. Karena akibat yang ditimbulkan tidak hanya menimpa diri sendiri, tetapi juga banyak orang di sekeliling anda. Bisa saja anda memulihkan diri dengan cepat, namun anda tidak akan dapat memperbaiki hancurnya masa kecil dari anak anda, hancurnya perasaan orang tua dan orang tua istri anda, serta hancurna kehidupan pasangan anda. Apapun yang terjadi, jangan pernah terpikir untuk berpisah. Di tengah pertengkaran sehebat apapun, jangan pernah terbersit pikiran untuk berpisah.
Sebagai penutup, terlepas dari uraian di atas, orang yang menikah lalu gagal, itu masih lebih baik daripada orang yang tidak pernah menikah karena takut gagal. Setidaknya, orang yang pernah menikah sudah menunjukkan bahwa dirinya memiliki keberanian untuk membuat sebuah keputusan besar, dengan segala resikonya.

Sopan

Orang Jawa itu sangat sopan. Saking sopannya, seandainya seorang tamu ditanya tuan rumah, "apakah sudah makan?", si tamu harus menjawab sudah, walaupun sebenarnya belum. Karena kalau dia menjawab belum, itu artinya tidak sopan.
Seandainya si tamu itu ditawari untuk makan, maka si tamu harus -pura pura- menolak, meskipun sebenarnya dia lapar. Karena kalau si tamu langsung mau, itu artinya tidak sopan.
Sebaliknya, dalam keadaan apapun, si tuan rumah itu harus menyuguhkan makanan ke tamu, setidaknya minuman manis. Meskipun sebenarnya si tuan rumah sedang tidak memiliki apa-apa. Karena kalau tuan rumah tidak menawari makanan, itu artinya tidak sopan.


Orang Sunda lebih sopan lagi. Seandainya ada tamu yang ingin sekedar menumpang menginap karena kelelahan, maka si tamu akan disambut dengan ramah dan dipersilahkan tidur di kamar terbaik. Si tamu akan dijamu dengan makanan yang paling enak, disuguhi minuman paling baik dan diperlakukan bak raja. Saat si tamu hendak pulang, saking sopannya, si tuan rumah justru meminta maaf atas jamuan yang hanya sekedarnya. Padahal si tamu sangat berterimakasih atas perlakuan tuan rumah yang sangat baik itu.


Kalau orang Jerman beda lagi, mereka tidak sopan. Dan di Jerman memang tidak boleh sopan, karena kalau kamu terlalu sopan, maka kamu tidak akan dianggap/disepelekan.

Tuesday, June 11, 2013

Kerja Keras, Rezeki dan Takdir




"Sesungguhnya, orang yang bekerja keras (sampai sedikit tidur) tidak akan menambah rezeki mereka sedikitpun. Dan orang yang hanya menghabiskan hari dengan tidurpun, tidak akan mengurangi rezeki (yang telah dijatahkan) kepada mereka."

Bagi saya, ungkapan di atas isinya menarik untuk direnungi. Ada kalanya seorang manusia sudah berupaya menjemput rezeki dengan sekuat tenaga, namun ternyata dia tidak mendapatkan hasil seperti yang diinginkan. Jika demikian, apakah semua usaha yang telah dilakukan itu sia-sia?
Jawabannya adalah iya! Jika semua usaha itu diniatkan untuk mendapatkan hasil, maka usaha sekeras apapun sama sekali tidak akan mendekatkan seseorang dengan rezeki.
Jika demikian, lalu mengapa manusia harus bekerja?

Jawabannya adalah, untuk menunaikan kewajiban. Rezeki itu memang sudah ditetapkan, namun berusaha itu adalah wajib.
Usahayang diniatkan untuk mendapatkan rezeki adalah sia-sia karena sama sekali kerja keras itu tidak akan mendatangkan rezeki bagi seseorang. Namun jika kerja keras itu diniatkan ikhlas untuk beribadah, maka apapun yang dilakukan manusia tidak akan pernah ada yang sia-sia.

Ada tiga kriteria agar usaha itu dapat dinilai sebagai ibadah:1. Menjalankan amanah yang kita emban atas tugas itu dengan sebaik-baiknya.
2. Tidak melupakan ibadah wajib dengan alibi pekerjaan.
3. Meniatkan rezeki yang akan diperoleh untuk tujuan baik, misalnya untuk menafkahi keluarga.

Rezeki memang telah ditakdirkan namun tidak ada yang tahu takdir manusia selain Allah. Seseorang baru mengetahui takdir setelah melewatinya.
Namun demikian, sebenarnya ada sedikit petunjuk tentang masa depan. Takdir Allah memang telah ditetapkan dan bersifat rahasia, namun sebagian diantaranya dapat diprediksi, yaitu melalui pemahaman terhadap terhadap hukum alam yang memiliki pola konsisten. Pada hakikatnya, hukum alam itu juga merupakan ayat Allah, ciptaan Allah dan takdir Allah.

Ketika seorang Isaac Newton duduk di bawah pohon, kemudian sebuah apel jatuh menimpa kepalanya, dia berpikir, Mengapa apel bisa jatuh ke tanah?
Semakin jauh lagi dia bertanya, mengapa bumi mengelilingi matahari?
Seorang yang beriman percaya bahwa semua itu karena takdir Allah. Sebagian dari takdir Allah itu berjalan sesuai hukum alam yang dapat dipelajari melalui ilmu pengetahuan (sedangkan sebagian lainnya bersifat gaib). Salah satu hukum alam itu adalah teori gravitasi yang telah diamati oleh Newton beberapa abad lalu.

Dalam lingkungan yang normal, statistika menunjukkan bahwa seseorang yang bekerja lebih banyak akan mendapatkan hasil yang lebih banyak pula. Dan itu juga merupakan sebuah hukum alam. Tentu saja kerja keras bukan satu-satunya parameter, karena pasti dipengaruhi faktor-faktor lain yang tidak diketahui, sebutlah itu faktor X. Tidak seorangpun yang tahu Faktor X karena sifatnya gaib dan merupakan kewenangan Allah. Faktor X merupakan hak prerogative Allah yang tidak dapat diintervensi. Usaha maksimum manusia hanyalah sebatas eksploitasi terhadap sifat-sifat hukum alam tersebut, dengan menyerahkan sepenuhnya pengaruh faktor X tersebut kepada Allah.

Yang membedakan seorang muslim dengan atheis adalah, bahwa seorang muslim percaya faktor X itu adalah domain Allah dan bersifat gaib. Sedangkan atheis percaya bahwa faktor X itu tak berpola atau random. Orang Jerman menggunakan kata "Glück" yang artinya keberuntungan. Sebagian lainnya yang sangat memuja sains, bahkan tidak percaya bahwa faktor X itu ada dan menganggap bahwa semua di alam semesta ini memiliki pola.

Pernahkah anda mendengar seseorang yang berkata "Saya lihat sepertinya kamu akan sukses di masa depan"? Bagaimana orang-orang itu dapat berkata demikian?
Beberapa orang, berdasarkan pengalamannya, dapat membaca karakter orang lain, dan dari data-data yang didapatkannya, dia dapat memprediksi masa depan orang tersebut. Tentu saja prediksi itu tidak selalu/harus benar, karena seiring bertumbuhnya jiwa dan bertambahnya pengalaman, karakter manusia dapat saja berubah. Sama halnya dengan cerita Newton yang melihat apel jatuh di atas. Newton dapat memprediksi bahwa apel tersebut akan jatuh ke tanah, bukan karena Newton seorang peramal yang mengetahui hal gaib. Tetapi karena dia memiliki pengetahuan bahwa hukum alam berkata demikian.
Tentu saja apel itu tidak harus jatuh ke tanah, karena itu semua terserah Allah. Jika Allah menghendaki apel tersebut jatuh ke bulan, ya itu bisa saja terjadi. Dan yang demikian itu diluar pengetahuan manusia.

Sebagai penutup, Salah satu sifat Allah adalah maha pemberi. Jika manusia meminta, Dia pasti akan mengabulkan. Meskipun demikian, meminta sesuatu perlu dilakukan dengan etika yang baik. Seseorang yang meminta tidak berhak untuk memaksa kepada yang diminta. Karena kita ini mau meminta, bukan menodong. Manusia tentunya harus sadar, sebagai pihak yang meminta kita harus punya sopan santun. Meskipun kita tahu bahwa Allah itu sangat baik, pengasih, penyayang dan selalu memberi kepada setiap yang meminta.
Kadang kala kita ini sudah mengemis-ngemis, tapi tidak tahu diri. Disuruh ini, merasa berat, disuruh itu tidak mau, dilarang ini membantah,,.. Kita perlu berintrospeks.

Wallahu a’lam

"Sama sekali semua ini bukanlah hasil jerih payahku, kerja kerasku, peras keringatku maupun daya upayaku. Semua ini semata-mata belas kasihan Allah. Jika sewaktu-waktu Dia mengambilnya, aku harus siap mengikhlaskannya. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan sebagai manusia."
#Hikmah

Sunday, June 9, 2013

Prasangka Baik

Apa yang kita rasakan dan lihat dalam kehidupan ini tergantung dari kacamata yang kita pakai. Dunia ini akan nampak indah jika kita memandang segala sesuatu dengan dengan ketulusan. Sebaliknya, apapun akan terlihat buruk jika kita melihatnya dengan kebencian.

Perjalanan manusia dalam aliran waktu tak selamanya berjalan mulus. Kadangkala, batu kerikil menjadi variasi dalam kehidupan. Ada kalanya kita sudah berkorban untuk sebuah niat baik, tapi seolah-olah semua pengorbanan itu tak berarti apa-apa. Sebenarnya, tidak pernah sia-sia sebuah usaha yang dilandasi dengan niat baik, jika kita melakukannya ikhlas karena Allah. Namun jika kita menyandarkan harapan kita pada makhluk, maka bersiap-siaplah untuk kecewa.

Manusia itu memiliki rasa bosan, bisa melakukan kesalahan maupun lupa. Karena itulah, dalam berinteraksi dengan sesama, sepatutnya jika kita mampu untuk bersikap toleran, bersedia memaafkan dan berkompromi dengan keadaan. Jika kita ingin dapat bertahan dalam lingkungan apapun, kita harus mampu bernegosiasi dengan keadaan. Apalagi dalam sebuah interaksi jangka panjang. Bagaimana mungkin kita bisa bertahan jika kita mengharapkan segalanya terus sempurna tanpa ada kesempatan untuk berkompromi?

Tanpa rasa memaafkan, jiwa ini hanya akan dipenuhi dengan kebencian. Baik itu memaafkan orang lain, maupun memaafkan diri sendiri. Cukuplah sejarah itu membuat manusia untuk belajar dari pengalaman. Agar kita sebagai manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Berkompromi dengan sejarah dan memaafkan diri sendiri itu perlu. Tetap positif thinking karena kesalahan itu adalah bagian dari sifat manusia. Hidup ini berjalan maju dan tidak berhenti di satu masa.

Kadang kala, pertolongan Allah turun lewat cara yang kurang kita sukai. Padahal mungkin hanya dengan cara itulah kita terselamatkan. Allah menolong kita tetapi justru kita mempersepsikan itu sebagai ujian. Sesuatu yang seharusnya kita syukuri, justru sebaliknya malah kita tangisi. Kita baru dapat memahami semuanya ketika Allah telah menjelaskannya melalui jalan hikmah. Baik itu datang dari hasil perenungan kita maupun kepekaan kita atas ucapan-ucapan makhlukNya.

-"-

Bersyukur

Masa depan seseorang dapat diprediksi dari cara dia menyikapi keadaan. Seseorang yang mampu bersabar ketika diberi ujian, maka ia akan mampu untuk bersyukur ketika diberi nikmat. Sebaliknya, seseorang yang ketika diberi ujian berputus asa, maka dia akan cenderung untuk melupakan Allah ketika mendapat nikmat. Manusia istimewa itu adalah orang yang tetap bersyukur bahkan pada saat diberi ujian. Karena ujian Allah itu, pada hakikatnya tidak seberapa dibanding nikmat yang telah Dia berikan. Karena itulah, dikatakan bahwa syukur adalah tingkatan tertinggi dari kesabaran.
Sebaliknya, manusia yang paling celaka adalah, orang yang telah diberi nikmat, namun tetap ada saja yang dikeluhkan. Mereka itulah orang-orang yang kufur nikmat. Naudzubillah Min Dzalik.
Mudah-mudahan kita semua bukan termasuk orang-orang yang kufur nikmat. Mudah-mudahan Allah tidak mencabut segala nikmat yang telah Dia karuniakan.

Kehidupan ini seperti roda berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Kita selalu berdoa agar diberi yang terbaik oleh Allah. Sebenarnya, kondisi yang lebih baik itu ketika putaran roda kehidupan kita sedang di atas, atau justru ketika kita berada di bawah?
Ada tiga kemungkinan respon kita dalam menghadapi setiap keadaan: yaitu mengeluh, bersabar atau bersyukur. Ketika fase hidup kita sedang di atas, maka ada tiga kemungkinan output dari cara kita bersikap. Seyogyanya, ketika kita mendapatkan nikmat, kita menjadi bersyukur. Tetapi kadangkala kita lupa untuk bersyukur. Lupa bahwa semua nikmat itu adalah titipan atau pemberian Allah. Dan yang lebih celaka adalah, jika kita selalu merasa kurang dengan semua pemberian Allah, yang mengakibatkan kita terus mengeluh.
Lain cerita ketika kita sedang terpuruk dalam kehidupan. Jika kita mampu bertahan atas keterpurukan , maka kita dapat termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar. Kalaupun kita berkeluh kesah kepada Allah, maka hal tersebut dapat dimaklumi, karena setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menghadapi ujian. Bahkan, ketika dalam kesusahan, kita tetap dapat mengingat pemberian Allah, dan kita mampu bersyukur dalam keterpurukan, mungkin kita bisa menjadi orang yang istimewa.

Ternyata, kondisi kesusahan justru memberi kesempatan kita untuk menjadi orang istimewa, sedangkan kondisi bergelimang kebahagiaan itu bisa jadi merupakan jebakan yang dapat menjerumuskan kita menjadi orang celaka.
Jadi, manakah sebenarnya yang lebih baik? manakah yang lebih patut kita syukuri?
Kita tidak perlu menunda untuk bersyukur, apapun keadaannya.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu"

-"-

Sunday, December 25, 2011

Tidak Semua Orang Harus Kaya

 

"Beribadahlah kamu seolah-olah akan mati esok hari dan bekerjalah kamu seolah-olah akan hidup seribu tahun lagi"

Pesan apa yang dapat kita petik dari kalimat motivasi di atas. Kita harus lebih giat bekerja agar kita menjadi kaya. Apakah seperti itu maksudnya?

Jika kita coba renungkan lagi, maka sesungguhnya kalimat di atas bukanlah motivasi untuk berlomba mencari kekayaan, namun, lebih tepatnya adalah untuk produktif/kerja keras. Ada baiknya anda membaca tulisan saya sebelumnya untuk lebih memahami filosofi dari pemikiran ini.

Memang, menjadi kaya adalah hak bagi semua orang. Namun jika kita hanya terfokus dengan kata kunci "kaya", maka kesan yang muncul dan akan memberikan sugesti terhadap otak kita, adalah tentang menuntut hak dan menumpuk kekayaan. Padahal, tanpa perlu kita tuntut pun, Allah pasti akan memenuhi hak dan mencukupi kebutuhan kita. Jika semua orang tersugesti dengan cara yang sama, yaitu mendahukukan pemenuhan haknya, maka semua orang akan berlomba-lomba dalam rangka mendahulukan diri untuk mendapatkan haknya. Pada akhirnya, semua akan kehabisan energi karena perlombaan tersebut, sebelum sempat memenuhi kewajibannya.

Allah menjamin rezeki bagi tiap-tiap makhluknya, Dia memberi rezeki melalui jalan yang logis maupun tidak disangka-sangka. Pada saat yang sama, kita tetap diharuskan untuk bekerja keras.
Loh, kalau sudah dijamin rezekinya, kenapa masih harus bekerja?
Sebenarnya, tidak ada yang bertentangan dari dari ketiga aksioma tersebut. Ketika kita sudah bekerja keras, produktif semaksimal mungkin, secara alami Allah akan memberi rezeki kepada kita. Dengan demikian, nampaknya rezeki datang melalui jalan yang logis, sesuai dengan hukum alam. Namun kadang kala, kita sudah bekerja keras, namun rezeki Allah tidak datang melalui jalan dari kerja keras kita, bisa jadi rezeki itu justru datang dari jalan lain. Apakah demikian itu berarti kerja keras kita sia-sia? Tidak, karena dengan kita bekerja keras itu, maka kita sudah melakukan sebuah ikhtiar, dan jika itu kita niatkan sebgai ibadah, maka kita sudah mencatatkan satu amal kebaikan. Sedangkan jalan rezeki yang akan turun kepada kita, itu adalah sepenuhnya hak Allah untuk menentukan. Apakah itu melalui jalan yang logis atau tidak disangka-sangka.

Maka yang lebih tepat adalah, bahwa, tidak semua orang harus kaya, tapi semua orang harus produktif. Kebenaran hipotesis ini akan teruji waktu, dan dengan sendirinya kita akan melihat apakah hipotesis tersebut benar atau salah. Keharusan untuk produktif di sini berlaku umum kepada semua orang. Dengan demikian, setiap orang harus melakukan apapun perannya dengan penuh integritas dan menjalankan tanggungjawabnya dengan benar sehingga kesejahteraan tercipta untuk semua orang.

Ada sebuah ilustrasi. Seorang pekerja yang lebih memprioritaskan kata kunci "kaya" daripada "produktif", maka dia akan lebih disibukkan dengan kenaikan pangkat daripada oleh pekerjaan itu sendiri, misalnya. Tidak ada yang salah dengan sibuk untuk kenaikan pangkat, tetapi coba lihatlah! Adakah orang yang dapat bersantai dengan pekerjaannya, sehingga menjadi sibuk dengan kenaikan pangkat. Saya rasa apapun profesi kita, jika kita menjalankan dengan sungguh-sunggu, pasti amanah yang kita emban sudah sangat banyak dan cukup menyibukkan kita, dan menyita waktu serta perhatian kita dari menuntut hak (kenaikan pangkat).

Akibat dari salah prioritas seperti ini, maka kita cenderung mengeluh ketika mendapat amanah pekerjaan lebih. Padahal jika kita mau adil dalam berhitung, maka rezeki yang telah Allah berikan masih jauh lebih banyak daripada cobaan atau tambahan beban yang diterima. Alih-alih melihat ke bawah dan bersyukur, justru kita membanding-bandingkan apa yang kita dapatkan dengan mereka yang berada di atas kita. Kita patut berintrospeksi atas hal ini.

Pemahaman ini baru memberikan dampak yang dapat dirasakan dalam sebuah entitas besar.
Misalnya, seseorang yang sangat kaya membeli sebuah Bentley. Dengan tenaganya yang luar biasa, mobil itu dapat dipacu dengan kecepatan yang sangat kencang. Namun karena dia hidup sebuah kota yang jalan-jalannya macet, maka mobil dengan kecepatan maksimum lebih dari 300 km/j tersebut hanya dapat dipacu 1/10 nya saja. Sia-sialah dia menjadi kaya sendirian. Bentley dapat dibeli, tapi kenyamanan tidak. Mobil cepat itu tidak dapat mengantarnya untuk lebih cepat sampai ke tujuan.

Bandingkan dengan kesadaran bersama untuk sejahtera bersama. Daripada berlomba untuk membeli mobil yang lebih cepat, orang kaya lebih memilih untuk memberikan andil dalam menciptakan sistem transportasi yang baru, menambah infrastruktur dst. Orang yang super kaya pun tidak perlu membeli mobil yang super cepat untuk dapat lebih cepat sampai ke tujuan, karena sudah ada trem yang selalu tepat waktu misalnya. Imbasnya, semua orang dapat menikmati kemudahan itu, bukan hanya segelintir orang. Kenyamanan itu tidak bisa didapatkan dengan cara kaya secara pribadi, tetapi itu merupakan hasil dari kesadaran kolektif yang berlangsung lama. Tidak ada gunanya menumpuk harta kekayaan. Yang lebih baik adalah berpikir semaksimal mungkin, bekerja semaksimal mungkin dan melakukan segala sesuatu seproduktif mungkin untuk kesejahteraan bersama.

Ada sebuah ungkapan filosofis lain yang telah lama, "secangkir kopi tidak memerkukan satu kilogram gula". Artinya adalah, kenikmatan dunia itu ada batasnya. Ketika sudah mencapai batas maksimum, ada saatnya kekayaan yang kita kejar itu tidak memberi tambahan kenikmatan. Bahkan, justru menimbulkan beban bagi kita. Orang makan saja, tidak akan mampu lebih dari dua piring. Dan piring ke tiga itu tidak ada manfaatnya bagi kita, kecuali kita berikan untuk orang lain. Tidak ada gunanya manusia itu berlomba mengejar kekayaan. Bahkan, orang-orang yang berlomba mengejar kekayaan sudah disinggung dalam Q.S. At Takatsur.

Secara prinsip, pentingnya kesadaran kolektif itu dapat kita pahami, namun prakteknya akan lebih sulit. Diperlukan suatu kesadaran massal dimana semua orang memiliki pemahaman yang sama. Setelah itu, baru tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik dapat dihasilkan. Permasalahannya bukan mencari-cari, siapa yang menjadi duri yang harus disingkirkan, atau harus berandai-andai menjadi agent of change, tetapi kesadaran dan sikap ini harus dimulai dari diri kita sendiri sesuai peran kita masing-masing.

Demonstrasi tidak membawa dampak yang signifikan, karena bukan itu peran mereka sesungguhnya. Peran seorang mahasiswa misalnya, yaitu harus belajar dengan benar. Ketika dia sudah mendapat peran yang lain, dia harus menjalankan  peran barunya dengan benar pula. Misalnya ketika setelah lulus mendapat amanah menjadi pegawai pemerintahan, amanah itu harus dijalankan dengan baik pula. Ketika sebagian yang lain diberikan peran oleh Allah sebagai pengusaha misalnya, dia harus tetap konsisten diatas kebenaran sebagaimana yang didengungkan ketika masih dalam peran sebelumnya, yaitu mahasiswa. Tidak ada langkah yang kita dilompati, masing-masing ada tahapnya. Tidak ada gunanya ketika kita masih menjadi mahasiswa meneriakkan kebenaran, tetapi setelah di pemerintahan ternyata ikut menjadi bagian yang buruk.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda, "Manfaatkanlah uang ini untuk dirimu sendiri, bila ada sisanya maka untuk keluargamu, jika masih tersisa, maka untuk kerabatmu, dan jika masih tersisa, maka untuk orang-orang disekitarmu."

Pada prinsipnya, yang dikejar bukanlah target untuk menjadi orang terkaya di Asia ataupun Dunia bahkan. Tapi adalah seberapa banyak manusia dapat bermanfaat bagi orang lain. Jika kebutuhan pribadi kita sudah terpenuhi, cukuplah itu yang kita ambil. Selebihnya gunakan untuk membantu orang lain. Membangun perusahaan baru, mensejahterakan karyawan dengan lebih baik, dst. Tidak ada gunanya menumpuk kekayaan, karena indera yang kita miliki hanya lima. Kemampuan kita untuk merasakan kenikmatan di dunia itu terbatas. Ada ambangnya dimana kita akan merasa bosan dan tidak akan merasakan lagi nikmatnya dunia. Dan sesungguhnya yang tidak terbatas itu hanyalah nafsu kita belaka.

Satu hal lagi yang perlu kita kritisi adalah konsep investasi dengan tujuan kebebasan finansial, dimana seorang yang dikatakan sukses dapat pensiun dini dan kemudian uang akan bekerja untuk dirinya. Manusia diturunkan di dunia ini untuk menjadi kholifah, mengelola bumi dengan sebaik-baiknya. Bukan untuk mengeksploitasi bumi dengan sebanyak-banyaknya seperti prinsip ekonomi Adam Smith "Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya". Bukan pula untuk bersantai-santai sementara sebagian lain manusia membutuhkan kehadiran kita. Selama kita masih punya nafas, maka selama itu pula tugas kita sebagai kholifah belum berakhir. Selama itu pula kita tetap harus bekerja dan berguna bagi sesama. Jika pemahaman kita tentang bekerja adalah untuk mencari kekayaan, maka saya katakan bahwa hal itu terlalu dangkal sekali. Dunia adalah ladang amal, yang akan kita nikmati hasilnya di akhirat kelak.

Adalah perjalanan hidup almarhum seorang paman yang telah memberi inspirasi. Saya bersyukur masih berkesempatan untuk bersilaturahmi sebelum beliau meninggal. Sebagai seorang pensiunan pegawai negeri (seperti juga ayah saya), saya yakin beliau mendapatkan dana pensiun bulanan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun demikian, beliau tidak memilih untuk bersantai menikmati pensiun, beliau justru membuka toko dan bengkel sepeda. Bukan dengan motivasi untuk mengejar kekayaan, tetapi berdasarkan keyakinan bahwa, selama hayat masih dikandung badan, maka selama itu pula masih ada kesempatan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Kenapa? karena saya tahu, tidak besar keuntungan materi yang diambil dari toko tersebut. Dan saya juga tahu, usaha sepeda di jaman sekarang bukanlah mainstream yang akan mendatangkan keuntungan melimpah. Namun demikian, usaha tersebut tetap beliau tekuni secara istiqomah sampai akhir hayat.

Barangkali beliau akan menuturkan cerita yang berbeda dari yang saya pahami. Tetapi itulah hikmah yang dapat kupetik dari melihat kehidupan beliau.

Negara kita tidak akan maju selama pemerintahnya masih korup, rakyatnya masih malas dan orang-orang kayanya masih serakah. Masing-masing kita harus melihat ke diri kita sendiri, peran apa yang sedang kita jalani dan itulah yang harus kita perbaiki. Jujur, kerja keras dan bersyukur, itulah yang harus selalu kita pegang.

-"-

Tulisan ini hanyalah intepretasi penulis terhadap nilai-nilai agama, kehidupan dan pengalaman. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai rujukan sebelum melakukan perbandingan ke sumber lain.
Tulisan ini berlanjut di sini.